You are currently viewing Honai : Rumah Adat Papua yang Eksotis dan Punya Banyak Fungsi

Honai : Rumah Adat Papua yang Eksotis dan Punya Banyak Fungsi

Advertisements

Selain memiliki tempat wisata yang kerap mencuri perhatian wisatawan mancanegara, Indonesia juga memiliki banyak sekali hal unik lain. Salah satunya ialah rumah adat Papua bernama Hanoi.

Di antara indahnya pemandangan tanah Papua, ada kehidupan masyarakat pegunungan Papua yang masih alami dan tradisional serta menempati rumah adat yang beralaskan tanah ini.

Lantas seperti apa Hanoi yang terkenal karena eksotis ini? Berikut ulasannya:

Rumah Tanpa Jendela

Hanoi dibangun tanpa jendela serta memiliki atap seperti kerucut dengan bahan dasar kayu dan juga jerami atau ilalang. Hal ini untuk menghindari udara malam yang dingin di puncak pegunungan.

Lantai pertama biasanya untuk tempat beraktivitas seperti musyawarah, aktivitas malam hari, dan sebagainya. Sementara lantai kedua terdiri dari kamar-kamar dan digunakan sebagai tempat tidur. Untuk menghubungkan lantai pertama dan kedua, rumah Honai menggunakan tangga kayu.

Meski berlantai 2 namun Honai hanya memiliki tinggi hanya sekitar 1 meter saja. Bahkan untuk orang dewasa tidak bisa berdiri tegak jika sudah ada di dalam rumah Honai. Walau terlihat kecil, rumah Honai sebetulnya dapat diisi hingga 5 sampai 10 orang. Hal ini dimaksudkan agar rumah Honai tetap hangat.

Advertisements

Peninggalan Nenek Moyang

Rumah adat Honai ternyata sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Rumah ini mudah ditemukan pada masyarakat suku Dani yang letaknya terletak di Lembah pegunungan provinsi Papua.

Nama Honai sendiri berasal dari kata Husn yang berarti laki-laki dan ai yang berarti rumah. Jadi sesuai artinya Honai merupakan rumah untuk laki-laki.

Khusus untuk Laki-Laki

Karena hanya boleh ditempati oleh pria saja, maka wanita dilarang keras untuk masuk ke rumah Honai, walaupun sudah menikah.
Hanya pria dan anak laki-laki saja yang boleh masuk, begitupun sebaliknya berlaku pada rumah Ebe’ai yang hanya boleh ditempati oleh wanita saja. Konon budaya tersebut sudah menjadi budaya turun-menurun dan harus dituruti.
Tempat Tinggal, Lumbung, dan Pengasapan Mumi

Selain bentuknya yang eksotis, rumah adat yang menyerupai tumbuhan jamur satu ini juga tidak hanya dijadikan tempat tinggal saja. Masyarakat juga memanfaatkan Honai sebagai lumbung untuk menyimpan umbi-umbian hasil panen dan bahkan pengasapan mumi. Khusus untuk rumah adat Papua yang digunakan untuk pengasapan mumi, bisa ditemukan di Desa Kurulu dan Desa Aikima, tempat 2 mumi paling terkenal di Lembah Baliem.

Sumber : DtkTrvl

Leave a Reply