You are currently viewing Si Badut itu Tak Lagi Lucu

Si Badut itu Tak Lagi Lucu

Advertisements

Di pinggiran jalan yang saya lalui setiap hari sepulang kerja atau sebaliknya, selalu terlihat sosoknya yang gemuk. Badannya yang berbulu lembut dengan kedua telapak kaki yang terlihat lebih besar dari ukuran telapak kaki manusia pada umumnya.

Kepalanya diangguk-anggukkan seperti burung kutilang, kadang digeleng ke kiri dan kanan.

Kepada pengguna jalan, dia melambai-lambaikan tangan sambil menggoyangkan badannya . Sayangnya, jarang yang tertarik atau berhenti sesaat untuk sekedar menontonnya.

Pandemi Covid 19 ini jelas membuat semua orang harus memutar otak untuk dapat melanjutkan hidup, terutama di bidang ekonomi. Beberapa bertahan pada pekerjaannya, namun tak sedikit pula yang harus mencoba peruntungannya di berbagai usaha. Salah satunya adalah usaha untuk menambah pemasukan atau sekadar untuk mengisi kantong celana.

Seperti badut-badut yang beraksi di pinggir jalan, bergoyang dan berjoget demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.

Dengan beraneka kostum yang kebanyakan menggambarkan karakter atau tokoh film kartun, si manusia badut ( begitulah saya menyebutnya ) rela mengais rejeki. Dengan usaha yang tak mudah, bersedia untuk pengap-pengapan, terkadang tubuh harus kuat menahan kostum pada bagian kepala. 

Ditambah lagi dengan beratnya baju yang umumnya berbahan tebal dan berbulu. Tak sampai di situ, si manusia badut pun harus banyak bergerak tiap menit, untuk menarik orang yang lalu lalang. 

Ya, dia tak lantas diam berdiri di pinggir jalan itu. Harus bergoyang, berjoget, atau melakukan gerakan-gerakan yang lucu. Berharap banyak yang dengan ikhlas, memberikan imbalan untuk sebuah hiburan sesaat.

Saya ingat sekitar lima belas tahun yang lalu menemani badut-badut beraksi dalam sebuah acara ulang tahun. Saya sempat mengisi waktu luang sebagai MC atau pembawa acara pada acara ulang tahun anak-anak. 

Oleh pemilik agen atau party organizer, saya diberi kesempatan untuk bertugas bersama badut-badut dalam berbagai karakter yang akan memeriahkan acara itu, sesuai dengan request atau permintaan sang empunya acara. 

Persiapan saya lakukan satu atau dua hari sebelum acara. Dari mulai menyusun acara, menyiapkan beberapa permainan, dan tentu saja bersama badut-badut lucu itu.

Jika sang empunya acara memiliki uang banyak, mereka bisa menyewa lebih dari satu badut. Saya ingat, sekali sewa satu badut biayanya hampir mencapai setengah juta plus pembawa acara.

Bayangkan, betapa jumlah yang cukup besar pada waktu itu. Intinya, hanya orang yang berkecukupan yang bisa membuat acara pesta ulang tahun dengan mendatangkan badut.

Advertisements

Saya sempat memutar otak beberapa kali dalam membawakan acara ulang tahun. Bagaimana tidak, begitu kami datang ke rumah mereka, anak-anak dan bahkan orangtuanya sudah heboh duluan, ingin menyaksikan badut-badut. Padahal tim kami belum mengenakan kostum badut itu. Saya yang akan tampil terlebih dulu, mulai dari membuka acara sampai pada acara inti, yaitu tiup lilin. 

Nah, pada saat itulah biasanya si Badut akan muncul di tengah-tengah acara. Tapi saya justru sering kewalahan saat si Badut belum dimunculkan dan setelah dimunculkan. Wuih, anak-anak serta para orangtua menjadi histeris, suasana langsung hingar bingar dan kacau balau. 

Saya sebagai sang pembawa acara tak bakal digubris mereka. Semua terkesima dan terkagum-kagum dengan si Badut. Anak-anak tertawa riang, padahal jelas si Badut tak sedang melawak. Hanya bergoyang-goyang dan melambaikan tangan saja. Ibu-ibu pada rebutan ingin berdiri di samping si Badut, tak mau kalah dengan anak-anaknya. 

Tapi tak sedikit pula anak-anak yang ketakutan berlari keluar dari tempat acara, takut melihat badut. Mungkin sosok badut itu aneh atau justru menakutkan sampai ada yang menangis histeris. Seru sekali, heboh habis!

Benar-benar membuat saya untuk selalu mencari ide dalam menghandle sebuah acara ulang tahun anak dengan badut. Itu dulu…

Tapi sekarang, badut-badut yang berdiri di pinggir jalan itu, seolah harus terus melambaikan tangannya untuk menarik orang yang melewati jalan itu. Tak ada lagi yang histeris melihatnya, tak ada lagi anak-anak yang terheran-heran dan antusias menyaksikan aksinya.

Sedihnya lagi, si badut-badut itu beraksi di jalan untuk mendapatkan uang yang tak banyak. Ya, kostum badut yang dulu mahal, sekarang bisa sangat murah, ulang tahun dengan menyewa badut dulu adalah sesuatu yang ekslusif sekali. Tokoh-tokoh kartun yang membuat bocah-bocah senang dan tertawa, sekarang tak menarik lagi. Semua terlihat biasa-biasa saja.

Anak-anak lebih tertarik menonton film atau tayangan di youtube atau sejenisnya. Karakter yang membuat mereka berani bersosialisasi, berani tampil di muka umum, berani mengeluarkan pendapat telah hilang ditelan berbagai aplikasi hiburan di gawai mereka.

Andai saja ada wadah yang dapat membuat manusia –manusia badut itu menyalurkan keahlian mereka untuk menghibur anak-anak khususnya, alangkah indahnya. Mengembalikan karakter yang dapat membuat anak tidak pasif dan lebih banyak bergerak. 

Bersama badut mereka bisa tampil lebih percaya diri. Di lain sisi, para pencari uang ( dengan mengenakan kostum badut) bisa dengan aman dan terarah menghibur dan beraksi di tempat yang layak.

Alangkah harmonisnya jika kita semua bisa bergandeng tangan untuk melakukan yang terbaik, suatu perubahan sosial dan ekonomi yang saling menunjang, agar terciptanya suatu kehidupan yang adil dan berbela rasa. Semoga bisa terwujud agar badut-badut itu kembali lucu.


Source

Leave a Reply